Tak terasa sudah sembilan bulan istriku mengandung ksatria pertamaku, Ksatria Yang akan membela kebaikan. Ksatria Ichsan, yang sering bermanuver indah dalam rahim istriku, berlatih silat rupanya, sebagai persiapan menghadapi kejamnya dunia dan kegelapan yang hampir menguasai dunia. Bersiap untuk melanjutkan perjuangan ayahnya yang belum selesai. Ksatria dalam rahim istriku telah berjuang hebat dalam kamarnya yang sempit agar tidak memuat ibundanya kesakitan ketika harus dipotong perutnya sebagai pintu dia keluar, dia tidak ingin ibundanya terlalu menderita mengandungnya, padahal dia juga tahu ibunya berbahagia mengandung dia. Ksatriaku yang akan segera menemaniku berlatih dan mengasah ilmunya untuk menjadi penerusku....
Aku tunggu kekuatan hebatmu Ksatria Ichsan.......
Cari!!!
Tuesday, November 06, 2007
menunggu kehadiran Sang Ksatria
Posted by Ksatria Petir at 7:47 AM 0 comments
Labels: diary
Monday, August 20, 2007
Ampun......................
Tertatih aku menapaki jalanMu
Walau terluka, aku bertekad
Tetap hingga ujungnya
Saat jatuh, tanganMu ada untukku
ku lupa, kau tak lupa
HambaMu yang nista, hina
Allah,
Ampuni aku
Setiap langkahku
Allah,
Ampuni aku
Setiap nafasku
Allah,
Ampuni aku
Setiap pandanganku
Allah,
Ampuni aku
Setiap ucapku
20 agustus 2007
Posted by Ksatria Petir at 10:19 AM 1 comments
Pelan,
Daun itu jatuh menikmati angin
Berhembus lembut
Menghibur yang tertiup
Lepaskan penat
Bawa jiwa
Terbang bebas
Menembus batas
Lalu daun itu jatuh menikmati angin,
Pelan..
19 agustus 2007
Posted by Ksatria Petir at 10:17 AM 0 comments
Labels: Puisi
Apakah aku harus marah,
Untuk ungkapkan semua serampah?
Saat semua tak mampu melihatku,
Yang terkurung jasad.
Hanya jasad mampu dilihat,
Bukan hakikat.
Haruskah aku bersedih,
Jika kembali tenggelam,
Dalam jasad?
Terjebak tak berdaya, diperdaya nafsu
Jasad yang merusak jiwa
Terkubur di dalamnya.
19 agustus 2007
Posted by Ksatria Petir at 10:15 AM 0 comments
Labels: Puisi
Akan aku lepaskan jasad
Akan aku bebaskan jiwa
Namun aku bukanlah aku
Aku adalah harmoni
Jiwaku menyatu
Dengan cahaya
Dengan gelap
Aku cahaya dalam gelap
Aku bayangan dalam terang
16 agustus 2007
Posted by Ksatria Petir at 10:13 AM 0 comments
Labels: Puisi
Saat aku harus kalahkan amarah
Saat aku harus batasi kesenangan
Saat aku melebur dalam keduanya.
Aku tiupkan hakikat
Dalam keseimbanganku
Dalam harmoni
Sendiri di atas gelap dan terang
Kendalikan keduanya
Dalam keseimbangan
Kuasai, bukan dikuasai
Renangi, bukan tenggelam
Melayang, bukan terhempas
Aku adalah harmoni
16 agustus 2007
Posted by Ksatria Petir at 10:11 AM 0 comments
Labels: Puisi
Thursday, August 09, 2007
TeaterRekonstruksi (Tragedi Batavia 1628-1629)
![]()
Ini adalah salah satu kisah dari Kerajaan Mataram. Saat hampir semua wilayah di Jawa berada dalam kekuasaan Mataram dengan Sultan Agung sebagai rajanya, bagaikan duri dalam daging, Batavia menjadi ganjalan Mataram untuk menaklukkan Banten, karena Batavia tidak bersedia berkoalisi dengan Mataram untuk menaklukkan Banten.
Saat Sultan Agung disibukkan dengan urusan
Di Batavia pun Gubernur Jendral Jan Pieterzoon Coen dihadapkan dengan masalah yang menyangkut harga dirinya. Sara (Saartje) Specx yang dititipkan kepada Coen oleh Ayahnya, Jacques Specx yang sedang melakukan perjalan ke Patria, melakukan tindakan yang melanggar peraturan moral yang baru saja diterapkan di Batavia. Saartje Specx tertangkap basah sedang berduaan dengan Pieter Van Koertenhoef, seorang Perwira Muda VOC. Saartje dan Pieter kemudian di sidang di hadapan Dewan Hakim dan Dewan Gereja. Di persidangan, Pieter dijatuhi hukuman penggal, dan Saartje dijatuhi hukuman cambuk seratus kali, yang eksekusinya berlangsung satu tahun kemudian.
Setelah kegagalan pada serangan pertama di tahun 1628, Mataram berusaha melakukan serangan kedua pada tahun berikutnya, 1629. Penyerangan kali ini dipersiapkan lebih matang. Dikirimlah Tumenggung Singaranu, Pangeran Purbaya, Adipati Puger, Adipati Jumenah dan Tumenggung Madiun, Walau dipersiapkan lebih matang, serangan kali ini juga gagal, padahal Batavia saat itu sedang terkena Wabah disentri yang pada tanggal 21 September 1629 merenggut nyawa Sang Gubernur Jendral Jan Pieterzoon Coen. Saat pasukan Mataram pimpinan Tumenggung Singaranu kalah dan terpukul mundur, rupanya Adipati Ukur memanfaatkannya untuk kabur dan meninggalkan medan perang bersama anak buahnya menuju Banten, walau akhirnya tertangkap dan di eksekusi oleh Sultan Agung.
![]()
Tiga hari sebelum meninggal dunia, Jan Pieterzoon Coen sempat menyaksikan eksekusi pemenggalan Pieter Van Koertenhoef dan Saartje Specx. Beberapa hari setelah meninggalnya Jan Pieterzoon Coen, ayah Saartje Specx, Jacques Specx, pulang dan menggantikan posisi Jan Pieterzoon Coen dengan lebih disiplin. Hingga dapat memukul mundur pasukan Mataram pimpinan Tumenggung Singaranu yang sudah terpecah belah.
Rizki Pradana
25 Juli 2007
00.36
Posted by Ksatria Petir at 10:33 AM 3 comments


