Your Ad Here
Ksatria Petir

Cari!!!

Tuesday, November 06, 2007

menunggu kehadiran Sang Ksatria

Tak terasa sudah sembilan bulan istriku mengandung ksatria pertamaku, Ksatria Yang akan membela kebaikan. Ksatria Ichsan, yang sering bermanuver indah dalam rahim istriku, berlatih silat rupanya, sebagai persiapan menghadapi kejamnya dunia dan kegelapan yang hampir menguasai dunia. Bersiap untuk melanjutkan perjuangan ayahnya yang belum selesai. Ksatria dalam rahim istriku telah berjuang hebat dalam kamarnya yang sempit agar tidak memuat ibundanya kesakitan ketika harus dipotong perutnya sebagai pintu dia keluar, dia tidak ingin ibundanya terlalu menderita mengandungnya, padahal dia juga tahu ibunya berbahagia mengandung dia. Ksatriaku yang akan segera menemaniku berlatih dan mengasah ilmunya untuk menjadi penerusku....
Aku tunggu kekuatan hebatmu Ksatria Ichsan.......

Monday, August 20, 2007

Ampun......................

Tertatih aku menapaki jalanMu

Walau terluka, aku bertekad

Tetap hingga ujungnya

Saat jatuh, tanganMu ada untukku

ku lupa, kau tak lupa

HambaMu yang nista, hina

Allah,

Ampuni aku

Setiap langkahku

Allah,

Ampuni aku

Setiap nafasku

Allah,

Ampuni aku

Setiap pandanganku

Allah,

Ampuni aku

Setiap ucapku

20 agustus 2007

Pelan,
Daun itu jatuh menikmati angin
Berhembus lembut
Menghibur yang tertiup
Lepaskan penat
Bawa jiwa
Terbang bebas
Menembus batas
Lalu daun itu jatuh menikmati angin,
Pelan..

19 agustus 2007

Apakah aku harus marah,

Untuk ungkapkan semua serampah?

Saat semua tak mampu melihatku,

Yang terkurung jasad.

Hanya jasad mampu dilihat,

Bukan hakikat.

Haruskah aku bersedih,

Jika kembali tenggelam,

Dalam jasad?

Terjebak tak berdaya, diperdaya nafsu

Jasad yang merusak jiwa

Terkubur di dalamnya.

19 agustus 2007

Akan aku lepaskan jasad

Akan aku bebaskan jiwa

Namun aku bukanlah aku

Aku adalah harmoni

Jiwaku menyatu

Dengan cahaya

Dengan gelap

Aku cahaya dalam gelap

Aku bayangan dalam terang

16 agustus 2007

Saat aku harus kalahkan amarah

Saat aku harus batasi kesenangan

Saat aku melebur dalam keduanya.

Aku tiupkan hakikat

Dalam keseimbanganku

Dalam harmoni

Sendiri di atas gelap dan terang

Kendalikan keduanya

Dalam keseimbangan

Kuasai, bukan dikuasai

Renangi, bukan tenggelam

Melayang, bukan terhempas

Aku adalah harmoni

16 agustus 2007

Thursday, August 09, 2007

TeaterRekonstruksi (Tragedi Batavia 1628-1629)

Ini adalah salah satu kisah dari Kerajaan Mataram. Saat hampir semua wilayah di Jawa berada dalam kekuasaan Mataram dengan Sultan Agung sebagai rajanya, bagaikan duri dalam daging, Batavia menjadi ganjalan Mataram untuk menaklukkan Banten, karena Batavia tidak bersedia berkoalisi dengan Mataram untuk menaklukkan Banten. Batavia yang pada saat itu di pimpin oleh Jan Pieterzoon Coen dengan sangat gencar melakukan perluasan wilayah kekuasaan dan wilayah dagangnya. Kemudian muncul kekhawatiran akan keberadaan Batavia di benak Sultan Agung, dan beliau memutuskan untuk menyerang dan menaklukkan Batavia pada tahun 1628. namun usaha demi usaha gagal, serangan demi serangan gagal. Para panglima terbaik dikirim dan hanya nama kembali. Tumenggung Bahureksa, Tumenggung Sura Agul-agul, Adipati Mandurorejo, Adipati Uposonto, Adipati Tuhpati, dan para pasukannya mangkat saat membela kepentingan Negara dan Bangsanya.

Saat Sultan Agung disibukkan dengan urusan Batavia yang tak kunjung selesai, ada dua daerah bawahan yang memanfaatkan kesempatan untuk memberontak, Ukur dan Sumedang melakukan penyusunan kekuatan untuk melawan Mataram. Namun berkat tangan dingin Tumenggung Singaranu, pemberontakan berhasil diredam dan para pemimpin dari daerah yang memberontak ditangkap hidup-hidup. Adipati Ukur dari Ukur, Adipati Rangga Gempol dan Pangeran Wira Adinegara yang dihadapkan kepada Sultan Agung diberi pilihan, Diampuni dengan membantu Mataram menyerang Batavia atau menolak menyerang Batavia dan menerima hukuman penggal. Adipati Ukur dan Rangga Gempol memilih membantu Mataram menyerang Batavia, tapi tidak dengan Pangeran Wira Adinegara yang menolak mendukung Mataram menyerang Batavia, beliau mati dipenggal.

Di Batavia pun Gubernur Jendral Jan Pieterzoon Coen dihadapkan dengan masalah yang menyangkut harga dirinya. Sara (Saartje) Specx yang dititipkan kepada Coen oleh Ayahnya, Jacques Specx yang sedang melakukan perjalan ke Patria, melakukan tindakan yang melanggar peraturan moral yang baru saja diterapkan di Batavia. Saartje Specx tertangkap basah sedang berduaan dengan Pieter Van Koertenhoef, seorang Perwira Muda VOC. Saartje dan Pieter kemudian di sidang di hadapan Dewan Hakim dan Dewan Gereja. Di persidangan, Pieter dijatuhi hukuman penggal, dan Saartje dijatuhi hukuman cambuk seratus kali, yang eksekusinya berlangsung satu tahun kemudian.

Setelah kegagalan pada serangan pertama di tahun 1628, Mataram berusaha melakukan serangan kedua pada tahun berikutnya, 1629. Penyerangan kali ini dipersiapkan lebih matang. Dikirimlah Tumenggung Singaranu, Pangeran Purbaya, Adipati Puger, Adipati Jumenah dan Tumenggung Madiun, Walau dipersiapkan lebih matang, serangan kali ini juga gagal, padahal Batavia saat itu sedang terkena Wabah disentri yang pada tanggal 21 September 1629 merenggut nyawa Sang Gubernur Jendral Jan Pieterzoon Coen. Saat pasukan Mataram pimpinan Tumenggung Singaranu kalah dan terpukul mundur, rupanya Adipati Ukur memanfaatkannya untuk kabur dan meninggalkan medan perang bersama anak buahnya menuju Banten, walau akhirnya tertangkap dan di eksekusi oleh Sultan Agung.

Tiga hari sebelum meninggal dunia, Jan Pieterzoon Coen sempat menyaksikan eksekusi pemenggalan Pieter Van Koertenhoef dan Saartje Specx. Beberapa hari setelah meninggalnya Jan Pieterzoon Coen, ayah Saartje Specx, Jacques Specx, pulang dan menggantikan posisi Jan Pieterzoon Coen dengan lebih disiplin. Hingga dapat memukul mundur pasukan Mataram pimpinan Tumenggung Singaranu yang sudah terpecah belah.

Rizki Pradana

Jakarta

25 Juli 2007

00.36