Your Ad Here
Ksatria Petir

Cari!!!

Showing posts with label diary. Show all posts
Showing posts with label diary. Show all posts

Thursday, January 29, 2009

Birthday is not always give people happiness..

Sebuah kalimat klise berkata begini, "Tak semua jalan mulus dan lurus seperti yang bayangkan, ada saatnya kau harus berkelok-kelok, menghindar, melompat, atau bahkan terjatuh."

Duh Gusti... ampun.... jangan pukul aku di bagian ini lagi, aku tak kuat menahannya, tak sanggut tangan ku menangkis serangan-serangan Mu, walau ku tahu ini hanya cobaan bagiku dari Mu.

Duh Gusti... berikan aku kekuatan... untuk mengalahkan amarahku dan egoku.
Duh Gusti... Kuatkan Jiwaku saat menghadapi pukulan-pukulanMu,
Duh Gusti... Semoga yang kena pukulanmu akan menjadi kuat, sekuat pukulan yang kau berikan....

duh Gusti... izinkan aku menangis dan menyesali semua perbuatan di masa lalu, agar jernih mata hatiku melihat ke depan meraih cahayaMu, demi Ksatria kecil penerusku dan Bundanya yang setia menemaniku.....

Sunday, November 09, 2008

malam......ini

aneh... padahal sudah satu malam kemarin gue kagak tidur, eh kok sekarang kagak tidur lagi.... huuuuhh... malam ini menatap layar komputer.........

Monday, August 25, 2008

pegel

Sejak pagi aku tak memiliki semangat yang cukup untuk membuka mata, setiap nyeri di tubuh mengikis semangat yang sedari awal memang sudah sedikit...

Anjing!!!!!! Pegel banget sih nih badan gue......

Thursday, June 12, 2008

Sang Guru Telah Menyelesaikan Tugasnya

Gua mulai pagi ini dengan senyuman. Semua yg ada bikin gw senyum, khususnya si Ichan, dari subuh dah teriak2 ama cengengesan terus. Jam 8.30 gw kelar mandi, trus siap2 sampe jam 9, waktu gua keluarin Skywave gw dari kandangnya. Waktu Skywave gw dah di luar, gw liat Ngkong gw keluar rumah pake baju batik, n bawa tas. Gw tanya, "Mau kemana, Ngkong?".
"Mau rapat PWRI, di rumah pak Kirno."
"Oh, ya udah ayo, kiki anterin."
Gak pake komentar dia lsg bilang iya. Pas dah jalan dia tanya, gw sekalian jalan kerja pa pulang lagi, gw bilang pulang dulu, pake sepatu ama ambil tas. Di jalan gw ga sempet bnyak omong, gw cuma becanda, tanya dia masih mw bawa mtr sendiri ga, trus dia jawab, ngga mau, karena dah tua. Ngga lama dia minta berenti di tempat fotokopi. Turunlah dia dgn gampangnya. Ga sampe 5 menit, kita dah jalan lg. Ga lama jalan, dia cuma tunjukin rumah yg di tuju, sampe, trus dia lsg jalan ke meja tempat temen2nya dah nunggu. Jdnya ga sempet cium tangan. Gw pamit trus lsg jalan pulang, pake sepatu, dan brangkat ke Cikal. Perjalanan ke Cikal, tanpa hambatan apa2. Sampe, absen, nyalain komputer, trus chitchat ma Arief, n Ricky, sambil ngerjain report klub drama. Ga lama telp gw bunyi, dr rumah. Kasih berita kalo Ngkong meninggal. Shock dibuatnya gw. Sedih, karena gw yg anter dia terakhir, dan dia msh sehat, seger buger.

Tuesday, February 26, 2008

Pernikahan Penuh Intrik - 12 November 2006


The Ijab Qobul - Kagak degdegan bro......


Begaya Ah.... :-)




Hore.... RESMI!!!!!!


Mendengarkan Nasihat Para Sesepuh

Tuesday, December 04, 2007

Kelahiran Sang Ksatria

Selasa 20 November 2007
16.30 WIB
Aku baru sampai di rumah, saat kulihat adik kecilku yang februari 2008 nanti berumur 3 tahun, sedang menemani kakak iparnya dan keponakannya yang masih di dalam perut. Ku lakukan rutinitas seperti biasa, buka sepatu, buka jaket, minum dan ganti baju. Saat aku mulai merebahkan tubuh di ruang tamu yang menjadi kamar tidurku, istriku datang membawakan kopi sambil memegang perutnya. Dia bilang kalau perutnya mengeras pada beberapa saat dan rutin, tapi belum terasa sakit katanya. Ya sudah aku kemudian menyeruput kopi dan mengantarkan adik kecilku pulang ke rumah ibu ku.

18.00 WIB
Seusai shalat maghrib istriku bilang, bahwa kontraksi di perutnya sudah semakin sering, tapi masih belum terasa sakit. Lalu kami berdua menuju ke rumah ibu yang tidak jauh dari kontrakan imutku. Sampai di sana istriku mengadu kepada mertuanya, dia bilang perutnya sudah terasa kontraksi, sudah 30 menit sekali. Lalu ibuku bilang bahwa memang sebentar lagi bayi yang ada dalam kandungan istriku akan segera lahir, dan dia menyarankan jangan buru-buru ke rumah sakit. Tunggu hingga frekuensi dan jarak antar kontraksi semakin dekat.

20.00 WIB
Aku teringat bahwa mertuaku yang tinggal di kontrakan bersamaku belum makan malam, lalu aku mengajak istriku untuk jalan kaki membeli bubur ayam di tempat yang jaraknya 1 km dari rumahku. Pulang pergi jadi 2 km. Sesampainya di rumah, dan menghidangkan bubur kepada mertuaku, istriku semakin merasakan kontraksinya dan sudah di iringin dengan sakit. Sudah 15 menit sekali katanya.

22.30 WIB
Aku belum bisa terlelap walau kantuk sudah menyerang bertubi-tubi. Suara dan cengkraman istriku yang sedang kesakitan tetap membuatku terjaga. Sudah 5 menit sekali katanya. Aku masih bertahan untuk tidak berangkat ke tempat bersalin.

Rabu, 21 November 2007
01.30 WIB
Akhirnya aku memutuskan untuk membawa istriku ke rumah sakit umun daerah Budi Asih yang jaraknya lumayan terjangkau. Mengendarai motor trailku dengan sangat perlahan dan hati-hati akhirnya aku sampai di Unit Gawat Darurat RSUD tersebut, istriku duduk di sebuiah tempat tidur dan langsung di periksa tensi darahnya, dan aku menuju meja pendaftaran. Ternyata kamar perawatan kelahiran di rumah sakit itu sudah penuh semua, mulai dari kelas 3 sampai kelas VVIP. Tak ada ruang lagi. Kami disarankan menuju RSCM yang jaraknya lumayan jauh. Aku memutuskan untuk tidak kesana, dan langsung pulang. Menunggu pagi nampaknya lebih baik bagi ku.

02.15 WIB
Istriku semakin menggelinjang menahan kontraksi. Aku tidak tega, kucoba hubungi RSCM via Telp, sekedar memastikan bahwa ada kamar untuk istriku jika kami memutuskan jalan kesana. Namun tak bisa kuhubungi. Ibu ku bangun dan menyuruhku segara membawa istrku ke Rumah bersalin terdekat, yaitu tempat aku dilahirkan dulu.

02.30 WIB
Aku dan istriku tiba di rumah bersalin Bahagia, tapi aku lupa membawa buku periksa istrku. Aku tinggal istriku bersama perawat, untuk mengambil buku tersebut. Setelah aku kembali tiba di rumah bersalin itu, aku sudah tidak melihat istrku di ruangan lobby. Aku semakin was-was. Aku menduga-duga, istriku sudah tidak kuat dan sudah masuk ruang bersalin. Ku cari ruang bersalin, lalu ku lihat ke dalam, dan benar istriku ada di dalam, sedang mengejan dan menggelinjang menahan sakit kontraksi. Aku khawatir.
Tak lama ibuku dating bersama adik laki-lakiku. Ibuku langsung menemani istriku di ruang bersalin. Aku menunggu bersama adikku dan seorang bapak yang istrinya juga di dalam ruang bersalin, istri bapak itu berada di tempat tidur tengah, dan istrku berada di tempat tidur pojok.

03.15 WIB
Terdengar suara istriku berteriak, ku minta tolong ibuku segera masuk dan menemani istrku. Tapi ketika melangkah masuk, ibu kembali keluar. Dia bilang yang akan melahirkan bukan istriku, tapi istri bapak yang juga sedang menunggu istrinya melahirkan. Karena yang sedang di tangani yang berada di tempat tidur tengah. Tapi hatiku terus berontak, yang ku dengar itu suara istriku sedang mengejan mengeluarkan anak dari rahimnya. Berkali-kali aku bilang ibuku, bahwa itu suara istriku, tapi ibuku selalu menyangkal, dia bilang istriku sedang tidur.

03.35 WIB
Suara bayi menangis dan kemudian di bawa ke sebuah ruang kaca, seorang bayi laki-laki dengan berat 2.7kg dan panjang 48cm. Lucu sekali bayi itu di balik kepercayaan terhadap omongan ibuku aku merasa itu anakku. Tapi tetap aku mengucapkan selamat kepada bapak yang ada dekatku. Kemudian bapak itu mengucap syukur dan mengirim pesan singkat berita gembira kepada kerabatnya. Tak lama sesudah bayi itu di bersihkan, ibuku bilang pada bapak itu untuk meng Adzani anaknya, kemudian bapak itu masuk ke ruangan kaca dengan niat mengadzani bayi laki-laki itu. Tapi kemudian dilarang suster seraya berkata, “ini bukan anak bapak, ini anaknya bapak Rizki, yang itu tuh.” Bapak itu bingung dan aku bingung sesaat dan kemudian berubah menjadi bahagia, ibuku segera masuk kedalam ruang bersalin, dan melihat hingga ke tempat tidur, dan ternyata benar firasatku, istriku yang tadi berteriak. Lalu aku ke ruang bayi, dan mengadzani dan iqomah bayiku. Aku cium tangan ibuku. Aku peluk istriku.
Aku meneteskan air mata haru.

03.50 WIB
“Selamatnya saya kembaliin nih. Selamat yah pak.” Bapak yang tadi keberikan ucapan selamat menyalamiku.

Muhammad Ksatria Ichsan Pradana, demikian aku menamai anak laki-laki pertama ku.
Muhammad aku artikan sebagai orang terpilih, Ksatria ku artikan sebagai pejuang, Ichsan berati kebaikan, dan Pradana adalah Namaku yang juga berarti pemimpin.

Sang Ksatria Ichsan Telah Lahir
“Orang pilihan yang memperjuangkan kebajikan”



Rizki Pradana
4 Desember 2007

Tuesday, November 06, 2007

menunggu kehadiran Sang Ksatria

Tak terasa sudah sembilan bulan istriku mengandung ksatria pertamaku, Ksatria Yang akan membela kebaikan. Ksatria Ichsan, yang sering bermanuver indah dalam rahim istriku, berlatih silat rupanya, sebagai persiapan menghadapi kejamnya dunia dan kegelapan yang hampir menguasai dunia. Bersiap untuk melanjutkan perjuangan ayahnya yang belum selesai. Ksatria dalam rahim istriku telah berjuang hebat dalam kamarnya yang sempit agar tidak memuat ibundanya kesakitan ketika harus dipotong perutnya sebagai pintu dia keluar, dia tidak ingin ibundanya terlalu menderita mengandungnya, padahal dia juga tahu ibunya berbahagia mengandung dia. Ksatriaku yang akan segera menemaniku berlatih dan mengasah ilmunya untuk menjadi penerusku....
Aku tunggu kekuatan hebatmu Ksatria Ichsan.......

Monday, August 20, 2007

Ampun......................

Tertatih aku menapaki jalanMu

Walau terluka, aku bertekad

Tetap hingga ujungnya

Saat jatuh, tanganMu ada untukku

ku lupa, kau tak lupa

HambaMu yang nista, hina

Allah,

Ampuni aku

Setiap langkahku

Allah,

Ampuni aku

Setiap nafasku

Allah,

Ampuni aku

Setiap pandanganku

Allah,

Ampuni aku

Setiap ucapku

20 agustus 2007

Wednesday, May 02, 2007

Abah Telah Pergi....

Aku rindu ceritanya akan masa perjuangan kemerdekaan.
Aku rindu ceritanya tentang kejadian masa lalu.
Aku rindu kebijaksanaannya
Aku rindu kesabarannya
Aku rindu Abah.....

Ceritanya saat menjelang tidur
tak pernah mengeluh akan perihnya hidup
tak pernah mengeluh akan dadanya.

Aku rindu Abah...

Abah telah pergi, dan aku tak sempat mencium tangannya seperti dulu sebelum dia pergi
aku tak sempat mengantarnya ke peristirahatan terakhir....

Aku ingin mencium tangannya.
tapi dia telah pergi....
dan anakku takkan pernah mengenal kakek buyutnya yang bijaksana dan kuat.


Muhammad Suha in memoriam
'The Fighter of the Family'
30 April 2007

Monday, April 30, 2007

Mati deh gue....... :(

Ya Allah.....
Hari ini gue gak mood bgt buat kerja...
masuk kerja udah enak gak ada kerjaan yang berarti, tapi pas dah lewat makan siang, dipanggil rapat, dan dapet kerjaan....

huuuuhhhhhhggggggghhhhh....
Bete........


"Aku telah terhanyut nikmatnya jiwa dalam ketenangan,
saat riak terdengar semua berantakan,
aku terjatuh,
dan tenggelam."

Tuesday, April 24, 2007

Tidak Apa-Apa, Aku Sudah Biasa Sendiri

Waktu itu jam makan siang, seperti biasa saya ambil jatah makan dari kantin lalu mencari tempat duduk. Kebetulan tinggal satu tempat duduk dalam sebuah meja yang sudah diisi empat orang rekan kerja. Makan seperti biasa lancar, kali ini dengan sedikit ngobrol. Setelah 1 atau dua suap, satu per satu rekan kerja pergi membawa baki makannya menjauh.
"Maaf, yah saya mau ngobrol dengan si itu.." suaranya pamitan.
kemudian diikuti dengan yang lain.

"Tidak apa-apa, saya sudah biasa sendiri." jawabku sambil mengunyah makanan.

kemudian suap demi suap mampir di mulutku hingga saatnya aku harus mengembalikan baki ke tempat cuci piring, dan kembali ke dalam ruanganku yang juga sendiri.